Skip to content
Sony’s Perspective

Apakah sistem pendidikan kita terlalu menekankan hafalan dan melupakan kemampuan berpikir kritis? Ini yang perlu kita telaah bersama.

Sony ChristantoMember of the Batam City Council (DPRD) · 2 min read WAFB
Siswa belajar di kelas
Siswa belajar di kelas

Mengapa pertanyaan ini penting?

Hampir semua dari kita pernah mengalaminya: semalam suntuk menghafal, esoknya ujian, lalu seminggu kemudian sebagian besar isinya sudah menguap. Kalau pola ini terjadi hampir di setiap jenjang, wajar jika kita bertanya, apakah ada yang salah dengan cara kita belajar?

Belajar yang baik bukan soal seberapa banyak yang bisa diingat, tetapi seberapa jauh yang dipelajari bisa dipakai.

Menghafal dan memahami itu berbeda

Menghafal bukan hal yang buruk. Rumus, kosakata, dan tanggal penting memang perlu diingat. Masalah muncul ketika hafalan menjadi tujuan akhir, bukan alat untuk memahami.

Perbedaannya bisa dilihat dari tiga hal berikut:

- Menghafal: mengingat jawaban tanpa tahu alasannya.

- Memahami: bisa menjelaskan mengapa sebuah jawaban benar.

- Menerapkan: mampu memakai pengetahuan itu di situasi yang baru.

Tanda-tanda yang perlu kita waspadai

1. Soal ujian lebih banyak menguji ingatan daripada penalaran.

2. Siswa takut bertanya karena dianggap keluar dari buku.

3. Nilai tinggi tidak selalu sejalan dengan kemampuan memecahkan masalah.

4. Pelajaran terasa terpisah dari kehidupan sehari-hari.

Yang bisa kita lakukan bersama

Perubahan tidak harus menunggu kebijakan besar. Beberapa langkah kecil bisa dimulai dari sekarang:

Di sekolah

- Perbanyak soal yang meminta alasan, bukan hanya jawaban.

- Beri ruang diskusi dan studi kasus di kelas.

- Hargai proses berpikir, bukan hanya hasil akhir.

Di rumah

- Ajak anak menjelaskan kembali apa yang baru dipelajari dengan kata-katanya sendiri.

- Tanyakan "kenapa", bukan hanya "berapa nilainya".

Di tingkat kebijakan

- Dorong kurikulum yang menyeimbangkan pengetahuan dasar dan kemampuan berpikir kritis.

- Beri pelatihan dan dukungan nyata bagi guru agar berani mengubah cara mengajar.


Penutup

Pertanyaan di judul ini sengaja dibuat terbuka. Tidak ada jawaban tunggal, dan setiap pihak punya peran. Yang jelas, pendidikan seharusnya membuat anak mampu berpikir, bukan hanya mampu menjawab ujian.

Bagaimana pengalaman Anda? Silakan sampaikan pandangan Anda melalui halaman Kontak.